Artikel Media dan Ruang Publik
Media dan Ruang Publik
Pada artikel sebelumnya saya telah membahas media dan kontrol sosial. Pada artikel ini saya akan sedikit menjelaskan bagaimana keterkaitan media dengan ruang publik. Ruang publik atau term “Public Sphere” lahir dari karya Jurgen Habermas pada tahun 1989 melalui buku yang berjudul The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Gourgeois Society. Ruang publik tersebut pada dasarnya merupakan ruang yang tercipta dari kumpulan orang-orang tertentu (private people)—dalam konteks sebagai kalangan borjuis, yang diciptakan seolah-olah sebagai bentuk penyikapan terhadap otoritas publik.
· Ruang Publik
Definisi ruang publik adalah tempat dimana suatu masyarakat atau komunitas dapat berkumpul untuk meraih tujuan yang sama, sharing masalah baik masalah pribadi maupun kelompok. Areal ini dapat berupa ruang dalam dunia nyata (Real Space) ataupun dunia maya (Virtual Space). Real space dapat berupa taman-taman, sekolah, gedung-gedung bersama, Gym. Sedangkan virtual space dapat berupa grup-grup Facebook, WhatsApp, LINE.
· Media dan Ruang Publik
Informasi merupakan hal yang dibutuhkan bagi tiap individu, cara individu mengerti informasi satu dan lainnya adalah bisa secara langsung atau tatap muka atau bisa juga melalui media, karena dengan melalui media kita dapat mendapat informasi dari manapun dengan media. Apalagi saat ini teknologi sudah sangat mumpuni sehingga kita dapat mendapat informasi dari mana saja. Media dalam ruang publik adalah sebagai penghubung antar individu agar dapat saling bertukar informasi. Setiap individu diberi kebebasan untuk menyuarakan pendapat di ruang publik. Dalam ruang publik, masyarakat digambarkan aktif dan saling berkomunikasi sehingga dapat diputuskan kebijakan mana yang akan digunakan. Media bisa digambarkan sebagai virtual space bagi masyarakat untuk saling bertukar informasi.
Dalam perkembangan teknologi, media sangat berpengaruh untuk ruang tukar informasi ruang publik. Mulai dari media cetak, media massa, dan media elektronik, Media yang terorganisasi dengan baik memiliki sifat terbuka sekaligus tertutup. Media terbuka dengan sistem-sistem lain yang berada di sekelilingnya namun dia juga mempunyai batasan untuk menyeleksi bagian mana yang akan berintegrasi. Segala sesuatu atau informasi tentang masyarakat dapat diketahui melalui media massa, itulah mengapa media massa diharapkan dapat menjadi sebuah medium untuk menyalurkan informasi yang benar kepada masyarakat.
Menurut Habermas, ruang publik membutuhkan sebuah forum yang memungkinkan bertemunya banyak orang dan menjadi tempat berbagi pengalaman sosial yang dapat diekspresikan dan dibagikan. Segala pendapat dan argumen mengenai didiskusikan secara rasional. Dalam ruang publik seharusnya ada pandangan yang jernih dan jujur sebagi alternatif setiap individu. Kepentingan politik menjadi salah satu faktor untuk dapat mewujudkan diskusi yang rasional. Terbentuknya ruang publik berguna untuk mengawasi kebijakan pemerintah secara kritis dan sistematis. Publik dapat mengontrol kebijakan tersebut melalui media massa.
Publik adalah representasi dari media massa. Apa yang terjadi di ruang publik adalah hasil konstruksi dari media. Ketika media menyebarkan informasi yang stabil maka, publik juga akan ikut stabil, begitu juga sebaliknya ketika media memberikan berita berubah-ubah, publik pun akan mengikutinya. Dilihat lebih seksama, media seolah-olah memberikan pengetahuan kepada khalayak dengan berbagai informasi setiap hari dan disaat yang sama mereka mengabaikan efek dari apa yang telah diberikan.
Ruang publik tidak hanya menawarkan informasi secara rasional yang dapat mengubah pandangan tentang isu publik namun juga dapat mengubah kehidupan seseorang dengan kekuatan untuk menggerakkan masyarakat. Habermas menawarkan konsep ruang publik sebagai dasar dari wacana rasionalitas. Bentuk deliberasi publik, pengambilan keputusan dan komunikasi adalah hasil dari partisipasi masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang saling berinteraksi akan menghasilkan pendapat yang heterogen namun ketika ada aktor yang lebih kuat, opininya akan dominan. Pertumbuhan sosial yang bebas dari dominasi dan intervensi adalah harapan dengan adanya ruang publik. Saat ini media semakin mengarah ke arah komersil sehingga setiap berita yang dianggap memiliki nilai berita kemudian dijadikan komoditi untuk mendapatkan profit.
· Referensi
1. http://ilmukomunikasi.amikom.ac.id/index.php/main/berita/4745
2. Salvatore Simarmata, “MEDIA BARU, RUANG PUBLIK BARU, DAN TRANSFORMASI KOMUNIKASI POLITIK DI INDONESIA”, November,2014.
3. Rulli Nasrullah, “Internet dan Ruang Publik Virtual, Sebuah Refleksi atas Teori Ruang Publik Habermas”
4. Ristiana Kadarsih, “Sebuah Pemikiran Ulang untuk Media Massa di Indonesia”
Comments
Post a Comment